Selasa, 17 Mei 2011

Cermin Dua Sisi

CERMIN DUA SISI

     “KERJA KERAS, JANGAN MUDAH MENYERAH dan IKHLAS“ adalah cara bagaimana menyelesaikan skenario kehidupan bagi anak perempuan berusia 19 tahun itu. Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara pada keluarga yang bersandarkan hidup pada sebuah bengkel las kecil pinggir jalan daerah Jakarta Barat ini menjadikan dirinya selalu mencoba bersikap dewasa dan tegas namun yang terjadi banyak hal diluar itu semua yang membuat teman-temannya mengenal dirinya dengan pribadi dan kesan yang berbeda.

     Saat berada dilingkungan keluarga, anak dengan nama kesayangan MEONG itu selalu menjadi andalan dan contoh dalam hal pendidikan dan sudut pandang. Memiliki satu adik perempuan dan satu adik perempuan yang meniru banyak langkahnya membuat gadis bermata kecil begitu berhati-hati dalam bersikap maupun berucap. Berusaha tampil sebaik dan sehebat mungkin untuk memacu semangat lebih baik lagi untuk saudara kecilnya.

     Lain hal lagi saat berada dilingkungan luar bersama teman-temannya. Begitu aneh bersikap, percaya diri berlebihan dan menyebalkan adalah kalimat pertama yang akan banyak orang ucapkan saat pertama kali bertemu dengannya. Namun saat mengenal lebih jauh gadis yang berbintang Leo itu hanya sekedar ekspresif dalam menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya walau terkadang hal itu masih saja membuat teman-temannya harus memicingkan mata, mengerutkan dahi untuk memahami apa maksudnya.

     Gadis yang bertubuh mungil itu, mempunyai hobi membaca. Sayangnya hobi membacanya ini tidak berlaku untuk buku-buku ilmu pengetahuan. Banyak waktu dan uang yang dihabiskan tiap bulannya untuk menambah koleksi buku novel dan komik yang sudah berdiri dalam tiga susunan kardus besar. Sempat terfikir untuk menyewakan buku-bukunya berharap mendapat keuntungan tambahan, tapi sayangnya rasa takut akan rusaknya buku-buku yang disewakan mengurungkan niatnya. Satu hal yang dapat dilihat bahwa gadis ini cukup pelit.

     Begitu mencontoh salah satu karakter dalam komik kesukaannya, gadis yang suka sekali ayam goreng dan nasi goreng ini tertarik mengikuti seni bela diri. Sedari Sekolah Dasar, ia sudah aktif  diekstra kurikuler karate. Namun terhenti karena pelatih yang pindah tempat tinggal sangat jauh, di Ternate. Setelah masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Sekolah Menengah Pertama, mencoba meneruskan ketertarikannya terhadap bela diri dengan aktif di bela diri tradisional pencak silat dan sekali lagi terhenti karena pelatihnya yang genit. Dan masih banyak hal yang terjadi yang begitu besar pengaruhnya bagi kehidupan gadis berdarah campuran Jawa-Jakarta itu.

     Dimulai dari terpaksa berpartisipasi dalam lomba pidato perayaan hari kemerdekaan Indonesia, ternyata berimbas positif pada dirinya. Itu saat pertama kalinya Ia menaklukkan rasa canggung dan gugup saat berhadapan dengan banyak orang dan menjadi waktu yang sangat berkesan walau hanya 7 menit berpidato menyampaikan isi teksnya dengan sedikit diplomatis. Kesenangan dan sedikit euphoria juga meluap saat bungkusan besar berwarna coklat dengan tulisan “Juara I” berada digenggaman tangannya.

     Tetapi euphoria itu terhenti saat gadis yang benci sekali makanan laut ini melihat cincin emasnya terbelah menjadi dua. Karena ada satu senior yang kurang sopan saat berbicara dengannya membuat tangan kiri gadis itu harus menyampaikan pesan tertentu dipipi lawan bicaranya itu dan langsung menangis. Bukan karena sakit tangannya namun karena cincin yang baru beberapa hari lalu dibeli menjadi patah demi mempertahankan harga diri. Satu pesan yang terlampir adalah jangan bersikap kurang ajar pada wanita khususnya yang pernah atau memiliki ilmu bela diri, bila tidak mau merasakan vonis ditempat apalagi efek sekarat.

     Apa isi cerita tanpa cinta dan cita?? Dan cerita itu mulai bergulir lebih jauh lagi saat memasuki Sekolah Menengah Kejuruan. Karena tidak suka mendengar guru dan teman-temannya begitu memuji salah satu senior keturunan Pontianak-Jepang, membuat rasa penasaran muncul dan pertanyaan besar “Sehebat apa seh dia??”. Berkenalan selalu menjadi awal bertukar cerita dan berakhir berbagi cinta. Kesamaan hobi membaca buku, kesamaan kejuruan Akuntansi disekolah dan kesenangan pada ilmu bela diri membuat warna baru dalam buku cerita gadis yang lahir di Jakarta, 15 Agustus 1991 itu.

     Semakin mengenalnya, semakin cinta pula gadis berhidung mancung itu pada Akuntansi. Demikian terjadi karena pria favoritnya itu selalu membantunya untuk memahami akuntansi. Dan dari pria itu pula lah, gadis yang fobia cicak ini menggemari bahasa Jepang karena prianya sering berucap dalam bahasa Jepang pula.

     Berakhirnya sekolah bagi pria itu membuat berakhir pula cerita baru mereka. Namun tidak membuat kecintaannya pada akuntansi dan kegemarannya akan bahasa Jepang juga berakhir. Seperti bertemu nafas baru saat, tumpukan angka meminta dirangkai dalam susunan laporan keuangan. Perasaan inilah yang membuat gadis yang tinggal bersama orang tuanya di Depok Baru ini meneruskan hasrat akuntansinya kejenjang pendidikan lebih tinggi di Universitas.

     Terdampar disalah satu Universitas swasta terbaik di Indonesia bukan tanpa alasan. Saat banyak surat penerimaan beasiswa bertumpuk di ruang tamu hanya isi dari amplop putih bergaris ungu yang menarik minatnya. Dan disanalah Ia, di Universitas Gunadarma Fakultas Ekonomi angkatan 2009. Merangkai tangga menuju cita yang ikut tergantung saat cinta yang dulu tertata. Menunggu diraih, pasti dan akan diraih cita itu mengundang optimisme tersendiri. Dengan kunci yang diberikan orang tuanya gadis berkaca mata itu mencoba membuka gerbang keduanya setelah gerbang pertamanya menjadi seorang aktris terhalang oleh banyak hal.

     Bukan tidak bekerja keras dan mudah menyerah akan tetapi, perjuangan menuju kesana membuat banyak hal lain terabaikan. Menyeimbangkan keluarga, pribadi dan sekolah lebih sulit pada posisi itu. Aktif pada kelompok teater sekolah selama dua setengah tahun masih bisa berjalan lancar, namun aktif sebagai anggota di salah satu managemen artis sangat menguras kantong apalagi dengan ekonomi keluarga yang adanya apa. Setidaknya pernah beberapa kali muncul disinetron sebagai pemain pengganti cukup menjadi pengalaman terbaik dan melepaskan ambisi tertahan untuk menjadi bagian dari seniman yang memang sudah mengalir didarahnya. Terlahir dari ibu yang juga seorang pemain teater dan bapak yang pernah menjadi seorang pelukis.

     Gadis yang tidak mampu mengucapkan salah satu huruf alphabet (khususnya huruf ‘R’) dengan baik ini selalu mencoba melihat hidup dari banyak sisi saat masalah menimpa karena hidup baginya adalah bola, bukan roda. Kehidupan berputar tidak satu arah karena terkadang banyak hal yang tidak terprediksi sebelumnya terjadi. Dikenal sebagai gadis yang murah senyum, ceria namun sedikit acuh tentang penampilan ini begitu menghargai kejujuran. Satu kalimat yang pernah bapaknya ucapkan adalah “Kejujuran adalah Mata Uang yang berlaku Dimana-mana”. Hal ini juga menjadi pegangan hidup baginya.

     Namun ada satu waktu dimana kejujurannya dalam kebaikan karena sangat tidak inginnya ada kebohongan malah seperti memberi cangkul pada orang lain untuk menggali lubang untuknya. Dijatuhkan dalam keterpurukan saat benar-benar memahami dan merangkai cerita masa depan untuk bersama menyisakan lubang yang sama besarnya dihati. Menjadi pribadi tak terkenali selama beberapa saat. Segala senyum ceria yang selalu terpatri diwajah gadis yang sedikit terlihat oriental itu hilang.

     Satu rasa terburuk dimana hal terbaik yang dapat diambil adalah belajar mendewasakan diri dengan masalah. Bagaimana bersikap dan mengontrol emosi saat badai berkecamuk di hati dan pikirannya. Mencari satu lilin untuk menemani suramnya saat itu malah menghadirkan ribuan pijar dari sahabat-sahabat yang sempat terabai beberapa waktu saat gadis itu terbuat oleh pelangi merah jambunya.

     Walau sekedar kalimat klasikal yang diucapkan, namun rasa sayang yang tersampaikan dari setiap kata membuat gadis yang suka warna biru, putih dan hitam itu bangkit lagi dengan menghabiskan waktu pada segala kegiatan, mulai aktif dalam organisasi aspirasi mahasiswa sampai menghabiskan hari ditempat karaoke bersama semua sahabatnya itu. Setidaknya bertahan demi orang-orang yang menyayanginya dan menyusun ulang setiap pelangi merah jambunya dengan lebih hati-hati.

     Gadis yang bisa menghabisakan tiga batang coklat dalam waktu singkat itu sesekali mengeluh pada sahabat-sahabatnya tentang program perkuliahan yang berat dan padat. Tapi penyuka mata kuliah kosong ini tahu dan sangat paham manfaat dari padatnya perkuliahan. Memaksa mahasiswa berdisiplin, yang cepat atau lambat akan menjadi kebiasaan dalam menjalani tugas maupun pekerjaan lainnya. Karena tidak ada hal yang sia-sia dalam melakukan kebaikan.

Tak ada nama, hanya sebuah cerita.
Bukan sekedar narasi namun juga dekripsi.
Tentang diri, tentang hari.
Mengurai cerita lewat bahasa.
Berbagi emosi, ambisi dan obsesi.
Bagai cermin dua sisi.
Gadis itu Aku sendiri
SYATHI 
By : My

0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates